Ilustrasi Drone, sebuah pesawat tanpa awak GDU Byrd
Premium yang diterbangkan pada acara Consumer Electronic Show (CES) 2017 di Las
Vegas, Nevada, (06/1/ 2017). (DAVID McNew / AFP)
Layanan pesan antar makanan
dengan kendaraan roda dua atau empat, sudah biasa. Bagaimana kalau kamu pesan
makanan tapi diantar pakai drone?
Dilansir
dari Bloomberg, Jumat (14/6/2019), Uber berusaha menyulap drone menjadi
kendaraan nirawak yang melakukan pengantaran pesanan. Musim panas tahun ini
saja, Uber dikabarkan bakal mulai mengantarkan makanan favorit pemesan
dengan drone.
Pelayanan
tersebut baru tersedia di San Diego, Amerika Serikat saja. Uber sendiri
sebenarnya sudah mencanangkan hal ini dari akhir tahun lalu.
Bagaimanan
proses pengantarannya?
Sayangnya, drone tersebut
tidak bakal tepat sampai ke rumah pelanggan. Drone akan
dikendalikan ke zona pendaratan aman khusus (designated safe landing zones), lalu
pesanan akan lanjut diantarkan kurir Uber terdekat ke depan rumah pelanggan.
Zona
aman ini bisa jadi atap kendaraan Uber yang diparkir dan dikenali dengan kode
QR. Perusahaan juga akan meluncurkan drone sendiri pada akhir tahun
ini, yang digadang mampu mencapai kecepatan hingga 112 km/jam.
Menariknya,
ongkirnya tidak jauh beda dengan pengantaran oleh kurir biasa.
Plus,
estimasi waktu pengantarannya lebih cepat. Kalau biasanya jarak 2,4 km ditempuh
dalam waktu 21 menit, estimasi Uber, pengantaran dengan drone ini
hanya memakan waktu 7 menit saja.
Tiongkok Punya Data Pemerintah Lewat Drone?

Departemen Keamanan Dalam Negeri Amerika Serikat (AS) memperingatkan bahwa droneproduksi perusahaan Tiongkok yang beredar di pasar AS mungkin saja bisa mengakses data internal pemerintah dan mengirimkannya ke negeri tirai bambu tersebut.
Peringatan
itu dikeluarkan kepada perusahaan dan organisasi di Amerika Serikat, dilansir
dari Engadget, Kamis (23/5/2019).
Dikatakan
bahwa pemerintah AS "memberi perhatian khusus" terhadap produk
teknologi yang berusaha mengakses data Amerika, membawa data tersebut ke
teritorial mereka dan memungkinkan dinas intelijennya memiliki akses tanpa
batas ke data tersebut.
Pemerintah
AS sendiri memperingatkan organisasi-organisasi yang terlibat dalam keamanan
nasional dan fungsi-fungsi penting bahwa mereka harus "sangat waspada
karena mereka (Tiongkok) mungkin berisiko besar untuk melakukan spionase."
Di
AS, drone digunakan untuk berbagai kepentingan, mulai dari penegakan
hukum hingga misi tanggapan pertama dan pengiriman medis.
80 Persen Drone Berasal dari Tiongkok

Ilustrasi: Drone (Sumber: The Verge)
Pemerintah AS tidak menyebutkan secara pasti pabrik drone yang
disinyalir demikian, tetapi laporan CNN menyatakan hampir 80
persen drone yang beredar di pasar AS dan Kanada berasal dari DJI
yang bermarkas di Shenzhen, Tiongkok.
Menurut
laporan Reuters, DJI menyatakan kalau keamanan produk mereka
sudah diverifikasi sendiri oleh pemerintah dan perusahaan besar Amerika.
DJI
juga menambahkan kalau pengguna memiliki kontrol penuh terhadap data yang
diambil dan disimpan di dalam drone serta memperingatkan
pengguna untuk tidak mengirim data yang beresiko lewat internet.
Peringatan
ini dirilis Badan Keamanan Siber dan Infrastruktur, Departemen Keamanan Dalam
Negeri Amerika Serikat seminggu setelah presiden mereka, Donald Trump
menandatangani perintah eksekutif yang isinya melarang seluruh produk teknologi
yang beresiko besar terhadap keamanan nasional beroperasi di negara Paman Sam.
Sementara
Amerika telah menyatakan kekhawatiran bahwa perusahaan seperti Huawei dan ZTE
dapat memanfaatkan infrastruktur untuk mata-mata, belum ada bukti publik bahwa
Huawei berpartisipasi dalam spionase pemerintah Tiongkok. Demikian juga dengan
perusahaan drone.
(Tik/Ysl)

No comments:
Post a Comment