Thursday, 20 June 2019

Rencana NASA Gunakan Bahan Bakar Ramah Lingkungan untuk Misi Antariksa

 



Roket NASA, United Launch Alliance Delta IV Heavy membawa pesawat Parker Solar Probe sebelum diluncurkan ke Matahari dari Frorida, Amerika Serikat, Sabtu (11/8). Pesawat luar angkasa tercepat ini akan mendekati Matahari. (Bill Ingalls/NASA via AP)

Liputan6.com, Washington DC - Bahan bakar ramah lingkungan akan segera digunakan dalam misi antariksa. Sebuah misi ambisius NASA bernama Green Propellant Infusion Mission (GPIM) akan diluncurkan pada 24 Juni 2019, jika sesuai rencana, dengan roket Falcon Heavy milik SpaceX.

Langkah itu adalah bagian dari misi uji teknologi yang disebut sebagai STP-2.

GPIM adalah sebuah pesawat ruang angkasa kecil berbentuk kotak yang menggunakan teknologi ramah lingkungan (green energy) sebagaimana dikutip dari Space.com pada Senin (17/6/2019). 

Wahana itu akan menguji propelan (bahan yang digunakan roket untuk memproduksi reaksi kimia) yang rendah racun, untuk pertama kalinya dalam misi angkasa luar NASA.
Propelan bersih itu dibuat dari campuran bahan bakar atau pengoksidasi hidroksil amonium nitrat yang bernama AF-M315E.

Senyawa itu akan berperan sebagai alternatif dari hidrazin yang sangat beracun, yang digunakan sebagai bahan bakar roket untuk menggerakkan satelit dan pesawat ruang angkasa.

"Sangat penting bagi kami untuk mengembangkan teknologi yang meningkatkan perlindungan bagi personel peluncuran serta lingkungan, dan yang berpotensi mengurangi biaya," kata Steve Jurczyk, staf administrasi di Direktorat Misi Teknologi Antariksa NASA.

Menelan Puluhan Juta Dollar

Roket United Launch Alliance Delta IV Heavy membawa pesawat Parker Solar Probe meluncur ke matahari, Frorida, AS, Minggu (12/8). Pesawat akan melintasi Venus dan berputar mengelilingi Matahari sebelum akhirnya mendekati Korona. (Bill Ingalls/NASA via AP)

Misi GPIM menelan biaya total $ 65 juta dan akan diuji untuk pertama kalinya di angkasa luar pada bulan ini. Hal itu bertujuan untuk menyediakan bahan bakar alternatif yang berkelanjutan dan efisien iuntuk misi antariksa.

Saat ini, sebagian besar pesawat ruang angkasa menggunakan hidrazin. Adapun bahan bakar baru NASA itu hampir 50 persen lebih efisien serta menjanjikan misi yang lebih lama dengan menggunakan sedikit propelan.

Bahan bakar inovasi baru itu juga memiliki titik beku yang lebih rendah, sehingga membutuhkan lebih sedikit daya pesawat ruang angkasa untuk mempertahankan suhu.

Selain itu, juga memiliki kepadatan yang lebih tinggi, sehingga dapat disimpan di ruang bervolume lebih kecil.

Sumber: Liputan6.com

No comments:

Post a Comment