Roket NASA, United Launch Alliance Delta IV Heavy membawa
pesawat Parker Solar Probe sebelum diluncurkan ke Matahari dari Frorida,
Amerika Serikat, Sabtu (11/8). Pesawat luar angkasa tercepat ini akan mendekati
Matahari. (Bill Ingalls/NASA via AP)
Liputan6.com, Washington DC - Bahan bakar
ramah lingkungan akan segera digunakan dalam misi antariksa. Sebuah misi
ambisius NASA bernama Green
Propellant Infusion Mission (GPIM) akan diluncurkan pada 24 Juni 2019, jika
sesuai rencana, dengan roket Falcon Heavy milik SpaceX.
Langkah
itu adalah bagian dari misi uji teknologi yang disebut sebagai STP-2.
GPIM
adalah sebuah pesawat ruang angkasa kecil berbentuk kotak yang menggunakan
teknologi ramah lingkungan (green energy) sebagaimana dikutip
dari Space.com pada Senin (17/6/2019).
Wahana
itu akan menguji propelan (bahan yang digunakan roket untuk memproduksi reaksi
kimia) yang rendah racun, untuk pertama kalinya dalam misi angkasa luar NASA.
Propelan
bersih itu dibuat dari campuran bahan bakar atau pengoksidasi hidroksil amonium
nitrat yang bernama AF-M315E.
Senyawa
itu akan berperan sebagai alternatif dari hidrazin yang sangat beracun, yang
digunakan sebagai bahan bakar roket untuk menggerakkan satelit dan pesawat
ruang angkasa.
"Sangat
penting bagi kami untuk mengembangkan teknologi yang meningkatkan perlindungan
bagi personel peluncuran serta lingkungan, dan yang berpotensi mengurangi
biaya," kata Steve Jurczyk, staf administrasi di Direktorat Misi Teknologi
Antariksa NASA.
Menelan Puluhan Juta Dollar

Roket United Launch Alliance Delta IV Heavy membawa
pesawat Parker Solar Probe meluncur ke matahari, Frorida, AS, Minggu (12/8).
Pesawat akan melintasi Venus dan berputar mengelilingi Matahari sebelum
akhirnya mendekati Korona. (Bill Ingalls/NASA via AP)
Misi GPIM menelan biaya total $ 65 juta dan akan diuji untuk
pertama kalinya di angkasa luar pada bulan ini. Hal itu bertujuan untuk
menyediakan bahan bakar alternatif yang berkelanjutan dan efisien iuntuk misi
antariksa.
Saat
ini, sebagian besar pesawat ruang angkasa menggunakan hidrazin. Adapun bahan
bakar baru NASA itu hampir 50 persen lebih efisien serta menjanjikan misi yang
lebih lama dengan menggunakan sedikit propelan.
Bahan
bakar inovasi baru itu juga memiliki titik beku yang lebih rendah, sehingga
membutuhkan lebih sedikit daya pesawat ruang angkasa untuk mempertahankan suhu.
Selain
itu, juga memiliki kepadatan yang lebih tinggi, sehingga dapat disimpan di
ruang bervolume lebih kecil.

No comments:
Post a Comment